Follow

Powered by Blogger.

Cara pembayaran SPP Mahasiswa Uin Ar-Raniry Angkatan 2014


Mahasiswa Komunikasi Islam Uin Ar-raniry Studi Obserfasi di Serambi indonesia


Mahasiswa dan mahasiswi kpi uin ar-raniry melakukan kunjungan studi obeservasi di kantor serambi indonesia.  jum'at, ( 19/52017).

 Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi komunikasi penyiaran islam (kpi) uin ar-raniry  melakukan studi observasi di kantor Serambi Indonesia. Banda Aceh (jum'at, 19/05/2017).

Pertemuan  dilaksanakan di News room. Dapur berita serambi indonesia. Dalam ruangan tersebut juga didiskusi tanya jawab mengenai perkembangan media dan seputaran media cetak, tantangan dan perubahan akibat dari perkembangan media teknologi itu sendiri.

Bukhari mengatakan "Setiap hari kami merancang semua berita,  perencanaan. untuk besok. Dan menentukan mana berita yang bisa di letakkan di halaman depan". 

Selain dalam bentuk cetak juga ada Serambi Online, Serambi Tv, Radio Serambi FM dan lainnya prodak jurnalistik yang di sampaikan kepada masyarakat. 

Total hampir 80 yang terikat. dan juaga ada kerjasama dengan tribun lain. Di banda aceh sekitar  40 orang . Di lhokseumawe ada 5 orang. Langsa 3orang,  yang lain hanya satu-satu orang. Serambi memiliki 3 percetakan :  di Banda aceh, Lhokseumawe dan Blang Pidie.

Biasa kalau even besar kami turun tim. Dengan tugas berbeda. Ada yg menulis, fotografer, drone dan lainnya. Imbuh bukhari. 

Dalam mencari berita serambi lebih bersifat  umum tidak menentukan topik khusus. Namun lebih kepada even yang sedang terjadi. Seperti pilkada.



Efektifitas Media Dakwah : Televisi, Radio, dan Surat Kabar dalam perkembangan Dakwah


Ilustrasi : Ustad Arifin Ilham




A. Pengertian Media Dakwah

Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu median, yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara etimologi yang berarti alat perantara. Wilbur Schramn mendefinisikan media sebagai teknologi informasi yang dapat digunakan dalam pengajaran. Secara lebih spesifik, yang dimaksud dengan media adalah alat-alat fisik yang menjelaskan isi pesan atau pengajaran, seperti buku, film, video kaset, slide, dan sebagainya.[1] Sedangkan media (wasilah) dakwah adalah alat yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran Islam) kepada para mad’u.[2]

Dengan kemajuan teknologi yang sangat besar, banyak media-media yang tercipta, maka oleh karena itu para da’i ataupun amil dakwah harus mampu memanfaatkan semua media yang dapat digunakan sebagai sarana penunjang dakwah. Dengan penggunaan media sebagai sarana dapat mencapai tujuan dakwah yang efektif dan dzkwah yang berkembang maju.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai segi tatanan kehidupan manusia mulai dari cara berfikir, bersikap, dan bertingkah laku. Termasuk mengetengahkan ide-ide yang bermuara pada friksi-friksi kemanusian. Walaupun ilmu pengetahuan dan teknologi telah mampu membawa perubahan yang besar yang besar dan luar biasa, namun kemajuan itu belum mampu menjawab berbagai problematika kehidupan manusia, lebih-lebih manusia yang hidup pada zaman modern ini.[3]

Dengan demikian sangat diperlukan adanya dakwah sebagai petunjuk hidup, agar manusia tidak kehilangan idealismenya ditengah jalan. Karena hanya dengan ajaran agama yang mampu menjawab berbagai tantangan dan problematika dalam kehidupan manusia baik dahulu, maupun masa yang akan datang.



B. Pengertian Dakwah Kontemporer

Dakwah kontemporer adalah Dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan di lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke atas.[4]

Teknis dakwah kontemporer berbeda dengan teknis dakwah kultural. Dakwah kultural dilakukan dengan cara menyesuaikan budaya masyarakat setempat, sedangkan dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang sedang berkembang. Persaingan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya dalam bidang periklanan adalah merupakan tantangan bagi para da’i kita untuk segera berpindah dari kebiasaan dakwah kultural ke dakwah kontemporer. Dakwah kontemporer yang dimaksud disini adalah dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi modern sebagaimana iklan yang lagi semarak dewasa ini.[5]

Dari pengertian diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa pengertian media dakwah kontemporer adalah suatu alat atau sarana yang digunakan oleh para da’i atau amil dakwah dalam menyampaikan dakwahnya dengan menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang sekarang ini. Dengan menggunakan kemajuan teknologi diharapkan dapat membantu para da’i dalam menyampaikan dakwahnya dengan mudah, dan dapat dipahami oleh para mad’u.

Berbagai usaha untuk menyebarkan dakwah yang islami sangat terkait dengan perubahan-perubahan yang dialami manusia, tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membuat manusia dapat menguasai, mengelola, dan memanfaatkan alam untuk kesejahteraan umat manusia, sehingga dakwah islami dapat diterima oleh seluruh manusia.

Tetapi dalam dimensi lain kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menimbulkan dampak yang dapat mengancam kehidupan manusia. Para pelaksana dakwah harus aktif menatap segala persoalaan kemasyarakatan dengan orang yang dapat melalui berbagai pendekatan, dengan kata lain penyelenggaraan dakwah harus dapat menempatkan dakwah dalam aspek kehidupan manusia.

Untuk memungkinkan dakwah memenuhi tuntutan zaman, maka bermacam problema internalnya harus diatasi terlebih dahulu, disamping berbagai problema eksternal yang merupakan ancama terhadap kelancaran dakwah.

Secara kenyataan problema internal dapat menghambat jalannya dakwah pada era globalisasi. Karena itu dakwah masih mempertahankan metode atau nilai-nilai lama yang telah diwariskan secara turun temurun, juga harus menggunakan pendekatan baru yang berguna untuk perbaikan dan kemajuan agar dakwah islam mampu memecahkan segala problematika kehidupan manusia.

Keberadaan dakwah dengan metode yang sesuai dengan kemajuan zaman mutlak diperlukan sebagai sara penyampaian syiar-syiar islam. Pada hakikatnya dapat membawa atau tercapainya kebahagiaan hidup manusia secara kesuluruhan (dunia dan akhirat).[6]



C. Pembagian media dakwah kontemporer

Para da’i selalu menggunakan media ataupun sarana untuk menyampaikan syiar-syiar agama, sehingga dapat diterima dengan mudah oleh para mad’u (audience). Akan tetapi pada masa modern ini para da’I harus mampu mengikuti zaman yang penuh dengan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu dalam mengkomunikasikan dakwahnya para da’I juga dapat menggunakan berbagai media yang dapat merangsang para mad’u untuk menimbulkan perhatian dan dapat menerima dakwah.[7]

Berdasarkan banyaknya komunikan yang menjadi sasaran dakwah, maka dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis media, yaitu media massa dan media non-massa.

a. Media massa

Media massa digunakan dalam komunikasi apabila komunikan berjumlah banyak dan bertempat tinggal jauh. Media massa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari umumnya surat kabar, radio, televisi, dan film bioskop yang beroperasi dalam bidang informasi dakwah.[8]

Keuntungan dakwah dengan menggunakan media massa adalah bahwa media massa menimbulkan keserempakan, artinya suatu pesan dapat diterima oleh komunikan yang jumlahnya relatif amat banyak. Jadi untuk menyebarkan informasi media masa sangat efektif dalam mengubah sikap, perilaku, pendapat komunikan dalam jumlah yang banyak.[9]



b. Media non-massa

Media ini biasanya digunakan dalam komunikasi untuk orang tertentu atau kelompok-kelompok tertentu seperti surat, telepon, SMS, telegram, faks, papan pengumuman, CD, e-mail, dan lain-lain. Semua itu dikategorikan karena tidak mengandung nilai keserempakan dan komunikannya tidak bersifat massal.[10]

Disamping penggolongan media diatas, media dakwah dari segi sifatnya juga dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

· Media tradisional, yaitu berbagai macam seni pertunjukan yang secara tradisonal dipentaskan didepan umum terutama sebagai sarana hiburan yang memiliki sifat komunikatif, seperti ludruk, wayang, drama, lenong dan sebagainya.

· Media modern, yang diistilahkan juga dengan “media elektronika” yaitu media yang dilahirkan dari teknologi. Yang termasuk media modern ini antara lain televise, radio, pers dan sebagainya.[11]



Ada beberapa media yang dapat di gunakan dalam pengembangan dakwah, Seperti Televisi, Radio dan Surat kabar.

1. Televisi

Televisi adalah pesawat sistem penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk penyiaran pertunjukan, berita, dan sebagainya.[12]

Di beberapa daerah terutama di Indonesia masyarakat banyak menghabiskan waktunya untuk melihat televisi. Kalau dakwah Islam dapat memanfaatkan media ini dengan efektif, maka secara otomatis jangkauan dakwah akan lebih luas dan kesan keagamaan yang ditimbulkan akan lebih mendalam.[13] Dengan adanya televisi sebagai media yang digunakan untuk menyampaikan dakwah, maka dengan menggunakan media ini diharapkan pesan-pesan dakwah dapat tersampaikan dengan efektif, karena dilihat dari sisi kehidupan masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya di hadapan televisi.

Program-program siaran dakwah yang dilakukan hendaknya mengenai sasaran objek dakwah dalam berbagai bidang sehingga sasaran dakwah dapat meningkatkan pengetahuan dan aktifitas beragama melalui program-program siaran yang disiarkan melalui televisi. Seperti “Mama dan Aa’ Curhat Dong” (Indosiar), program dakwah ini mengangkat kasus-kasus yang sering terjadi di kalangan masyarakat melalui penelusuran yang panjang tentang asal-muasal problem oleh pengusul (masyarakat) dan dibantu produser TV sehingga kasus tersebut tuntas dan menumbuhkan kesadaran keagamaan bagi orang yang berkasus.[14]

Sebagai sarana penyiaran agama melalui televisi dapat memberikan rangsangan terhadap masyarakat dan dapat membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap ajaran agama. Sehingga televisi dapat digunakan oleh semua orang atau da’I dalam menyampaikan ajaran agama, dan televisi dapat di jadikan sebagai media yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah.



2. Radio

Radio merupakan teknologi yang dipakai untuk menghantar sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang tersebut melintas dan merambat melalui jalur udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).

Seiring dengan perkembangan zaman, Radio banyak berperan dalam berbagai bidang salah satunya adalah dalam bidang dakwah. Radio dapat digunakan sebagai media penyampaian informasi ataupun sarana khutbah yang bersifat Islami. Walaupun banyak media yang berkembang pesat saat ini, namun media radio mampu bertahan sampai sekarang dan masih banyak penggunanya.

Dakwah radio atau dakwah melalui radio artinya memperlakukan dan memanfaatkan media paling populer di dunia ini seperti: channel, sarana, atau alat untuk mencapai tujuan dakwah. Jenis program dakwah di radio, selain ceramah dan dialog Islam(talkshow), Materinya terjemahan hadits, ayat Al-Quran, ungkapan sahabat Nabi Saw, nasihat ulama, atau kata mutiara Islami. Jadi, di tengah keasyikan menikmati misalnya lagu-lagu pop Indonesia, para pendengar “didakwahi” secara “tidak sadar”. Para da’i dan lembaga-lembaga dakwah harus memanfaatkan radio untuk menebarkan risalah Islam.[15]

Dakwah merupakan suatu usaha untuk mengajak, menyeru dan mempengaruhi manusia agar selalu berpegang pada ajaran Allah guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Mengajak ke jalan Allah wajib hukumnya. Keberhasilan ajakannya mencerminkan prospek dan pelestarian perkembangan Islam di masa mendatang, sebab maju dan mundurnya agama terletak di tangan penganut-penganut-Nya.

Bimbingan dan penyuluhan agama berperan dalam membangkitkan daya rohaniyah manusia melalui iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Di samping itu, sebagai landasan proses kegiatan dakwah dan penerangan agama yang harus dilaksanakan dalam berbagai lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, sebagai sarana penyiaran agama radio juga dapat memberikan rangsangan terhadap persepsi atau tanggapan dan tingkah laku bagi masyarakat banyak. Masyarakat sensitif terhadap informasi, bahkan menjadi salah satu kebutuhan pokok selain kebutuhan sandang, pangan dan papan. Semakin banyak orang berhubungan dengan informasi, maka akan semakin banyak pula pengetahuan bagi dirinya. Di dalam proses komunikasi sosial, peran ideal radio sebagai media publik adalah mewadahi sebanyak mungkin kebutuhan dan kepentingan pendengarnya.

Dalam menerima pesan dakwah yang disampaikan tentu saja masyarakat berbeda dalam menerimanya. Begitu juga kepastian tingkat efektifitas pemanfaatan media dakwah. Radio dalam proses berbeda dengan keberadaan pada daya serap pemahaman terhadap nilai yang disampaikan melalui masing-masing media dakwah.

Dengan demikian radio dalam proses dakwahnya berbeda dengan keberadaan media dakwah lainnya. Misalnya dalam penyiaran-penyiaran yang berupa ceramah tentang keagamaan yang semuanya itu merupakan upaya penyebaran ajaran yang mudah diterima masyarakat sebagai pedoman hidup guna memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.







3. Surat Kabar

surat kabar terletak pada kemampuannya untuk menyajikan berita-berita dan gagasan-gagasan tentang perkembangan masyarakat pada umumnya, yang dapat mempengaruhi kehidupan modern seperti sekarang ini.[16]

Media massa yang harus mutlak dipergunakan dalam pelaksanaan dakwah Islam yang harus memiliki efektivitas yang tinggi, antara lain Pers (surat kabar) Wilayah dakwah ini amat besar manfaatnya, sebab ia termasuk dari beberapa media massa pembentukan opini masyarakat hampir bisa disebut sebagai makanan pokok masyarakat mendambakan informasikan dan selalu dapat mengikuti perkembangan dunia. Dakwah Islam melalui media ini dapat membentuk berita-berita Islam, artikel-artikel Islam dan sebagainya.

Dalam Alquran terdapat satu surah yang bernama surah Al-Qalam yang artinya pena, sebagai isyarat tentang pentingnya peran huruf, pena dan penulisan dalam pelaksanaan dakwah Islamiyah. Firman Allah dalam surah Al-Qalam ayat 1.

ن وَالْقَلَمِ وَمَايَسْطُرُونَ (١)

Artinya.” Nun. demi kalam dan apa yang mereka tulis.[17]



Ayat diatas menjelaskan bahwa peran huruf, pena tulisan dalam pelaksanaan dakwah Islam sangat penting, sama pentingnya dengan dakwah itu sendiri. Dapat juga dipahami bahwa sejak semula dakwah Islamiyah telah merintis jalan selektif ke arah pembinaan penghurupan, penerapan dan tulisan atau dengan kata lain hal karangan-karangan.[18]

Adapun peluang yang dapat dimanfaatkan para dai dalam berdakwah melalui surat kabar antara lain dapat mengisi rubric-rubrik seperti berikut ini.

1. Arikel Keislaman. Dengan melalui artikel keislaman maka pesan yang ingin disampaikan akan cepat tersampaikan kepada masyarakat luas. Asalkan bahasa yang digunakan mudah dipahami dan menggunakan kalimat-kalimat yang tepat.

2. Tanya Jawab Masalah-Masalah Agama Islam. Biasanya dalam surat kabar ada kolom khusus untuk tanya jawab, hal ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah. Dan dai harus mampu memberikan jawaban yang benar terhadap suatu permasalahan yang dikemukakan oleh mad’u.

3. Cerita yang Bernafaskan Islam. Dalam hal ini peran para seniman muslim sangat dibutuhkan. Mereka dapat menyisipkan cerita-cerita yang mengandung ajaran Islam yang sesungguhnya.

4. Puisi-Puisi yang Bernafaskan Islam. Penyajian dakwah dengan puisi-puisi Islami, syairnya dapat diambil dari ajaran agalma Islam. Dakwah ini sangat diminati oleh kalangan remaja.

5. Rubrik Khusus Agama Islam.. Rubrik Khusus adalah suatu kolom yang memang disediakan untuk rubric agama Islam, katakanlah seperti kolom agama atau mimbar agama. Dengan adanya rubric ini , dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk berdakwah. Namun tentunya tidak melupakan prinsip-prinsip dakwah yang selalu melihat kondisi psikologis mad’u.



Media cetak juga sebagai salah satu media dakwah yang efektif untuk berdakwah bil qalam. Namun pada zaman sekarang ini dakwah bil qalam tidak hanya dilakukan di media cetak saja melainkan juga di internet seperti dikemas dalam blog, website dan artikel-artikel lain yang bisa diakses melalui internet. Dan majalah-majalah yang mengandung sisi dakwah juga bisa diposting di internet dan bisa dibaca oleh jutaan umat. Meskipun Internet merupakan barang baru, namun internet secara langsung berperan dalam menciptakan dunia yang mengglobal. Inti dari dakwah bil qalam adalah menulis, menulis laksana mendayung, berlayar dengan pikiran yang denganya penulis akan menemukan tantangan, pengalaman dan kepuasan.[19]















Kesimpulan :

1. Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu median, yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara etimologi yang berarti alat perantara. Wilbur Schramn mendefinisikan media sebagai teknologi informasi yang dapat digunakan dalam pengajaran. Secara lebih spesifik, yang dimaksud dengan media adalah alat-alat fisik yang menjelaskan isi pesan atau pengajaran, seperti buku, film, video kaset, slide, dan sebagainya. Sedangkan media (wasilah) dakwah adalah alat yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran Islam) kepada para mad’u.

2. Dakwah kontemporer adalah Dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan di lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke atas.

3. Media dakwah kontemporer adalah suatu alat atau sarana yang digunakan oleh para da’i atau amil dakwah dalam menyampaikan dakwahnya dengan menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang sekarang ini. Dengan menggunakan kemajuan teknologi diharapkan dapat membantu para da’i dalam menyampaikan dakwahnya dengan mudah, dan dapat dipahami oleh para mad’u.

4. Dakwah melalui televisi dapat memberikan rangsangan terhadap masyarakat dan dapat membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap ajaran agama. Sehingga televisi dapat digunakan oleh semua orang atau da’I dalam menyampaikan ajaran agama, dan televisi dapat di jadikan sebagai media yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah.

5. Dakwah radio atau dakwah melalui radio artinya memperlakukan dan memanfaatkan media paling populer di dunia ini seperti: channel, sarana, atau alat untuk mencapai tujuan dakwah. Jenis program dakwah di radio, selain ceramah dan dialog Islam(talkshow), Materinya terjemahan hadits, ayat Al-Quran, ungkapan sahabat Nabi Saw, nasihat ulama, atau kata mutiara Islami.

6. Media cetak juga sebagai salah satu media dakwah yang efektif untuk berdakwah bil qalam. surat kabar terletak pada kemampuannya untuk menyajikan berita-berita dan gagasan-gagasan tentang perkembangan masyarakat pada umumnya, yang dapat mempengaruhi kehidupan modern seperti sekarang ini

Baca Juga


DAFTAR PUSTAKA

Aziz , Moh. Ali,2004, Ilmu Dakwah,Jakarta: Prenada Media.

Amir,Samsul Munir,2009,Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah.

Al-Quran Surah Al-Qalam

Hasjmy,1984, Dustur Dakwah Menurut Alquran, Jakarta:Bulan Bintang.

Ilaihi,Wahyu,2010, Komunikasi Dakwah, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia

M.Jakfar Puteh,2006, Dakwah Di Era Globalisasi(Strategi Menghadapi Perubahan Sosial), Yogyakarta:AK Group.

Marzani Anwar, Jurnal Penelitian Muatan Dakwah Trans Tv Dan Respon Pemirsanya, Oktober 2009

Wahid, Fathul, 2004, Dakwah melalui Internet,Yogyakarta: Gava Media.

Http ://alumnifiad.youneed.us/t44-dakwah-kontemporer

Http://All-About-Theory.Blogspot.Com/2010/10/Pengertian-Surat-Kabar.Html

http://suwardilubis.blogspot.co.id/2016/01/peran-surat-kabar-dalam-menyampaikan.html

,






[1] Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), hal. 113.


[2] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal. 120.


[3] M.Jakfar Puteh, Dakwah Di Era Globalisasi(Strategi Menghadapi Perubahan Sosial), (Yogyakarta:AK Group),Hal. 131-132


[4]Http ://alumnifiad.youneed.us/t44-dakwah-kontemporer. di akses 08 juni 2016 09:20 wib


[5]Fathul Wahid, Dakwah melalui Internet, (Yogyakarta: Gava Media, 2004), hlm:124


[6] M.Jakfar Puteh, Dakwah Di Era Globalisasi… Hal.132-133.


[7] Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 105.


[8] Wahyu ilaihi, Ibid…,


[9] Ibid..,


[10]Ibid…, Hal.106.


[11] Wahyu Ilaihi, Komunikasi…, hal. 107


[12] Kamus Besar Bahasa Indonesia


[13] Moh. Ali Aziz, Ilmu…, hal. 154.


[14] Marzani Anwar, Jurnal Penelitian Muatan Dakwah Trans Tv Dan Respon Pemirsanya, Oktober 2009


[15] Makalah Radio sebagai Media Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Walisongo Semarang


[16] Http://All-About-Theory.Blogspot.Com/2010/10/Pengertian-Surat-Kabar.Html, Di Akses Rabu 08 juni 2016 pukul 23:34


[17] Al-Quran Surah Al-Qalam


[18] Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Alquran, (Jakarta, Bulan Bintang: 1984), Hal 100.


[19] http://suwardilubis.blogspot.co.id/2016/01/peran-surat-kabar-dalam-menyampaikan.html di akses Rabu 08 juni 2016 pukul 23:40 wib

Penjelasan dan Contoh : Konsep, Variabel dan Skala Pengukuran

Ilustrasi : Research/ google




1.  jelaskan dan berikan contoh apa yang dimaksud dengan konsep penelitian kuantitatif  ?

jawab  

 konsep adalah abtraksi dari fenomena yang dirumuskan berdasarkan ciri-ciri khusus dari fenomena itu dari hasil observasi lapangan. konsep- konsep yang ada pada umunya telah di beri nama tertentu. sehingga kalau nama itu di sebut orang akan mengerti  apa maksudnya, seperti : bila di sebut murid, pendidik, sekolah, maka orang telah mengerti maksudnya.

2. jelaskan dan berikan contoh apa yang dimaksudkan dengan variabel penelitian kuantitatif ?

jawab

variabel adalah segala sesuatu yang menunjukkan Variasi (bukan hanya satu macam), baik bentuk, besar, kualitas, nilai dan warnanya, dsb. contohnya : konsep murid maka akan ada variasinya. yaitu murid kelas 1, kelas 2, dsb. oleh sebab itu istilah konsep dapat di gunakan untuk menyebut variabel. kalau konsep adalah maknanya, kalau variabel adalah bahwa konsep itu terdiri dari beberapa variasi.

3. jelaskan jenis- jenis pengukuran variabel dan berikan contohnya ?

jawab

pengukuran adalah prosedur penetapan angka  (skala pengukuran) yang mewakili atribut yang dimiliki oleh Variabel . ada empat macam skala pengukuran yaitu :

a.  skala nominal yaitu rentangan angka hanya berfungsi untuk menunjukkan kategori secara terpisah ( deskriptif).

b. skala ordinal adalah rentangan angka selain menununjukkan katergori , juga menunjukkan jenjang, bahwa yang satu lebih tinggi dari pada yang lain. tanpa memperhatikan angka antara satu tingkat ketingkat yang berikutnya. contohnya : dalam kejuaraan skor juara satu 70, skor juara dua 60 dan skor juara tiga 45.

c. skor interval yaitu sama dengan skor ordinal hanya saja mempunyai jarak rentangan atau perbedaan kuantitas yang sama antara dua jenjang yang berurutan. misalnya skala 1-10, jarak skala 1-2 sama besarnya dengan jarak skala 2-3 yaitu satu. Dalam skala interval tidak dikenal angka nol mutlak artinya kalau seorang anak di beri nilai nol dalam sebuah tes, tidak berarti anak itu tidak ada kepandaian sama sekali.

d. skala rasio sama dengan skala interval hanya dia mempunyai angka nol mutlak. Skala ini paling banyak terjadi pada pengukuran benda eksak. Tidak pernah atau jarang sekali didapati dalam masalah sosial. Nol mutlak berti tidak mempunyai sama sekali , kalau panjang besi diukur dari nol, artinya dimulai dari titik awal besi, karena titik dianggap  tidak punya panjang.

4. jelaskan apa yang disebut dengan variabel bebas dan berikan contonya ?

jawab

 variabel bebas yaitu variabel yang menjadi sebab atau yang mempengaruhi variabel terikat. contohnya : baik buruknya prestasi dipengaruhi oleh minta pembaca dan sebagainya. minat pembaca tersebut adalah variabel bebas.

5. jelaskan apa yang di sebut dengan variabel terikat dan berikan contohnya ?

jawab

variabel terikat adalah variabel yang menjadi akibat atau yang dipengaruhi. contohnya Prestasi. 


referensi :
Kasiram, Moh. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif-kualitatif. Yogjakarta: Uin Maliki Press.


Pengertian Dan Sejarah Dakwah Serta Efektifitas Media Dakwah Klasik Di Era Modern

Ilustrasi: sejarah/ google


A. Pengertian Dakwah Klasik. 

Media dakwah klasik adalah berbagai macam seni pertunjukan yang secara tradisonal dipentaskan di depan umum (khalayak) terutama sebagai sarana hiburan yang memiliki sifat komunikatif, seperti ludruk, wayang, drama, dan sebagainya. Ada 3 jenis wasilah dakwah yaitu :[1]

1. Spoken words, yaitu media dakwah yang berbentuk ucapan atau bunyi yang dapat ditangkap dengan indra telinga seperti radio, telepon dan sebagainya. 

2. Pinted writing, yaitu media dakwah yang berbentuk lisan yang dapat di tangkap dengan indra mata. 

3. The audia visual, yaitu media dakwah yang berbentuk gambar hidup yang dapat didengar sekaligus dapat dilihat seperti telivisi, folm,video, dan sebagainya. 

Di samping penggolongan wasilah di atas, wasilah dakwah juga dari segi sifat nya juga dapat di bagi menjadi 2 golongan, yaitu : 

1. Media tradisional, yaitu berbagai macam seni pertunjukan yang secara tradisional di pentaskan ke depan umum (khalayak terutama sebagai sarana hiburan yang memiliki sifat komunikatif seperti, ludruk, wayang, drama, dan sebagainya. 

2. Media modern yang di istilahkan dengan “media elektronika. Yaitu media yang dilahirrkan dari teknologi termasuk media modern ini termasuk televisi, radio, pers dan sebagainya. 

Melihat kenyataan budaya bangsa Indnesia yang memiliki beranekaragam media tradisonal, maka dapat dipahami mengapa para Wali Songo menggunakan media ini sebgai media dakwah dan ternyata pilihan media yang di gunakan Wali Songo menggunakan media ini sebagai media dakwah dan ternyata pilihan media para Wali tersebut menghasilkan masyarakat Muslim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia. 

Media tradisonal berupa berbagai macam seni pertunjukan, yang secara tradisional dipentaskan di depan khalayak terutama sebagai sarana hiburan memiliki sifat komunikatif dan ternyata mudah dipakai sebagai wasilah dakwah yang efektif. Ada lebih dari 500 macam media tradisional di seluruh Indonesia sebagai pertunjukan rakyat, namun tidak semua media tersebut dapat dipergunakan sebagai wasilah dakwah. Untuk pemilihan media tradisional sebagai wasilah dakwah, harus depertimbangkan hal-hal sebagai berikut : 

a. Aspek efektifitas komunikasinya. 

b. Aspek kesesuaiannya dengan masyarakat setempat. 

c. Aspek legalitas dari sudut pandang ajaran islam.[2]



B. Sejarah Penggunaan Media Dakwah Klasik. 

Dakwah islamiyah artinya menyampaikan seruan islam, mengajak dan memanggil umat manusia agar menerima dan mempercayai keyakinan dan pandangan hidup. Tidak diragukan lagi bahwa berdakwah dengan sikap mulia mempunyai pengaruh besar terhadap audiens. Sikap mulia ini akan mendorong audiens banyak berfikir dan merenung sehingga tidak mustahil ia mendapat mengubah jalan hidupnya (dari jalan sesat pada jalan yang lurus). Nabi saw adalah manusia teladan yang mempunyai sikap-sikap mulia, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firmannya Q.S. Al-Ahzab : 21 

1. Berdakwah secara sembunyi (sirriyah). 

Seperti yang diketahui dalam sejarah, kota makkah pada saat sebelum datangnya islam merupakan pusat kegiatan bangsa Arab. Disanalah terdapat ka’bah dan benda-benda lain. Seperti patung yang dapat dijadikan sarana dan objek peribadatan mereka upacara-upacara ritual yang berupa kemusyrikan sudah menjadi tradisi yang kuat dalam masyarakat. 

Untuk mengubah semua itu bukanlkah hal yang mudah ia memerlukan orang yang mempunyai kepribadian yang tangguh dan bersikap bijak atau dengan kata lain orang-orang yang benar-benar telah mendapatkan hikmah dari Allah SWT. Rasulullah saw memulai dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi yang dimulai dari orang-orang terdekat. Dari keluarga sahabat dan orang-orang baik yang dikenalnya…mereka mengetahui bahwa Nabi adalah seorang yang baik dan jujur.Karena itu ajakan beliau mendapat ajakan positif dari mereka-mereka yang menerimanya.Mereka ini dikenal dengan sebagai (As sabiqun Al-Awwalun). Generasi pertama yang masuk Islam orang pertama masuk islam. 

Dengan cara sembunyi-sembunyi Nabi berkumpul dengan mereka guna memberi ajaran dan bimbingan tentang islam. Strategi dasar rasulullah pada saat itu adalah melakukan pembinaan aqidah sebagai landasan yang kuat sebagai yang dapat membentengi mereka dari serangan kaum kafir.Beliau sering berkumpul dengan mereka ditempat-tempat yang sekiranya tidak dapat ketahui kaum kafir. 

Adapun tempat yang dijadikan sebagi tempat peribadatan antara rasul dan para pengikutnya adalah ditempatnya atau dirumahnya Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi yang sering dijadikan tempat pertemuan rahasia tersebut. Ditempat inilah nabi saw mengajarkan ajaran islam kepada para pengikutnya. Selain dirumah Arqam Nabi juga sering bertemu dengan mereka dirumah para sahabat yang lain antara lain dikediaman sa’id bin zaid. Namun rumah Arqam dipilih nabi sebagai basis utama dari gerakan dakwahnya.Dengan dakwahnya seperti yang demikian ditempuh dengan lama tiga tahun. 

Pada fase ini terbentuklah komunikasi kaum beriman atas dasar persaudaraan, tolong-menolong, saling menyampaikan risalah dan mengatur posisi. Ketika hamzah bin Abdul Muthalib paman Nabi dan sebagian pemuka Quraisy, termasuk Umar Bin Khatab masuk Islam, maka bertambah kuatlah barisan umat Islam. Ketika itu turunlah ayat. Ketika itu turunlah Q.S. Al-Hijr: 94-96. 

Ayat diatas menunjukkan bahwa Allah swt telah menunjukkan hikmah kepada Nabinya yang mulia. Allah memerintahkan Nabi agar tidak lagi menyampaikan dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi melainkan dengan terang-terangan. 

Setelah posisi atau barisan umat Islam kuat, barulah Allah memerintahkan rasulnya untuk berdakwah secara terang-terangan. Hal ini tentu saja mendapat perlawanan dan pertentangan dari kaum quraisy seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya oleh umat islam. 

2. Berdakwah Secara Terang-Terangan 

Mula-mula Allah memerintahkan nabi agar berdakwah dilingkungan terdekat. Firmannya Q.S. Asy-Syura : 214-216. Rasulullah memerintahkan perintah tersebut dengan sikap tindakan yang bijak Allah memuji kebijakan keberanian dan keikhlasan beliau dalam berdakwah dijalannya.Beliau mengecam perbuatan syirik dan pelakunya serta merendahkan mereka hingga hari kiamat. Diantara sikap-sikap bijak beliau adalah sebagai berikut: 

Keberanian beliau ketika berseru dibukit safa, Ibnu Abbas dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengisahkan bahwa ketika turun ayat wa andzir ‘asyirataqul aqrabain(lihat ayat diatas) Nabi kemudian naik kebukit safa dan berseru “wahai Bani Fahr! Wahai bani ‘Ady!”. Ketiak mendengar seruan itu hamper semua orang dari dua kelompok pemuka quraisy tersebut berkumpul. Didalam kelompok tersebut terdapat Abu lahab dan pembesar Quraisy lainnya.Setelah semuanya berkumpul, nabi bertanya kepada mereka, “bagaimana pendapat kalian seandainya aku katakana bahwa ada seekor kuda dibalik bukit yang ingin mengubah nasib kalian, apakah kalian akan membenarkan aku?” mereka menjawab, “ya kami tidak pernah melihat engkau berdusta.” Selanjutnya beliau berkata “sungguh akan aku beri peringatan kepada kalian tentang siksa yang sangat pedih!”.Mendengar ucapan beliau, lalu Abu Lahab berkata “celakalah engkau ya Muhammad! Apakah hanya untuk mendengar ocehanmu ini engkau kumpulkan kami ketempat ini?”. Dari peristiwa ini, turunlah surat Al-Lahab : 1-2 

Pada umunya, para ahli yang dikritik lantaran tidak memasukkan media dalam analisis model komunikasi berasumsi bahwa proses komunikasi manusia dilakukan secara artifisial melalui saluran penyuaraan pesan, bahasa isyarat, terkadang pula melalui tulisan dan lukisan. Sekurang-kurangnya ada empat catatan historis tentang perkembangan media, yakni: 





1. Era masyarakat tribal. 

Di era ini, komunikasi dimediasi melalui komunikasi lisan karena masyarakat umumnya terikat dengan budaya lisan sehingga mengandalkan keterlibatan pemikiran intuitif dan holistis. 

2. Era masyarakat tulis. 

Di era ini, komunikasi manusia dimediasi oleh tulisan yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip bngunan logika, komunikasi visual, dorongan perenungan pribadi, matematika, sains, dan filsafat. 

3. Era percetakan. 

Di era ini, komunikasi antarmanusia menekankan pada cetakan visual yang berpusat pada “Galaksi Guttenberg” di sini peranan mata sangat dominan, cara berpikir linear, status sains semakin diperhitungkan, serta munculnya sikap individual. Karakteristik era ini berkaitan dengan melakukan konversi tulisan perorangan ke teknik cetakan, standarisasi bahasa nasional sebagai syarat membangun nasionalisme, serta mempertahankan prototipe revolusi industri. 

4. Era elektronika 

Era ini diawali dengan terbentuknya kesadaran dan pengalaman hidup dengan prinsip global village. Pada era ini, televisi merupakan media yang sangat dominan karena melibatkan semua sensori manusia (persepsi, sikap, strereotip, pikiran, perasaan, emosi, tindakan) yang mendorong warga masyarakat ke retribalization, serta memudarnya logika dan cara berpikir linear. Ada empat karakteristik era ini: 

a) Bertumbuhnya global village. 

b) Kehadiran cool medium seperti televisi yang secara spontan menawarkan hakikat lingkungan, serta retribalisasi kemanusiaan (perhatikan film-film horor, mitos). 

1. Pengaruh media makin kuat sehingga para penonton menjadi pasif. 

2. Cara berpikir dari linear ke lokal.. 

Setelah revolusi telekomunikasi bertumbuh pesat yang mendorong dan mengubah peran teknologi media, maka studi komunikasi manusia juga mengalami revolusi yang sangat cepat, dan peranan media dianggap penting untuk dimasukkan dalam model proses komunikasi manusia. Peranan media, dengan dukungan teknologi komunikasi, ternyata sangat membantu, memudahkan, mempercepat, memperluas peluang bagi sumber yang mengirimkan dan mempertukarkan informasi kepada atau dengan audiens atau massa yang sekaligus seolah mengabaikan ruang dan waktu fisik di muka bumi.[3]

C. Efektifitas Media Dakwah Klasik di Tengah Era Modern. 

Teknologi informasi pada era globalisasi sudah semakin canggih sehingga banyak media yang digunakan untuk menyampaikan dakwah.Sudah jarang kita temukan media klasik dalam berdakwah, namun masih ada beberapa efektifitas media klasik yang digunakan dalam berdakwah, contohnya ceramah dilapangan, dakwah kelompok dan majelis taklim. Sedangkan dakwah pada masa sekarang, masyarakat lebih tertarik dengan dakwah melalui media massa. 

a. Ceramah mimbar 

Media klasik ini masih digunakan oleh para pendakwah dalam menjalankan jalan dakwahnya.Hal ini membuktikan bakwa ceeramah mimbar yang notabene nya media klasik ini masih efektif digunakan dalam berdakwah dari zaman rasullullah hingga sekarang. 

b. Majelis taklim 

Majellis taklim ialah salah satu lembaga pendidikan diniah non formal yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada allah dan aklak mulia bagi jamaahnya ,serta mewujjudkan rahmat bagi alam semesta. 

Dalam prakteknya, majelis takim merupakan temopat pengajaran aytau pendidikan agama islam yang paling fleksibel dan tidak terikat oleh waktu penyelenggaraan nya pun tidak terikat, bias dalam waktu oagi, siang,sore maupun malam. Tempat mengajarannya pun bisa dilakukan di rumah masjid musalla, gedung, aula ,halama, dll 

c. Surat sebagai media komunikasi klasik 

Komunikasi antara raja raja pada masa dahulu menggunakan surat sebagai media. Untuk mengantarkan pesan menggunakan kurir atau burung merpati. Seperti dalam kisah nabi sulaiman a.s dengan jelas menerangkan proses komunikasi antara dirinya dengan ratu balqis[4].Pada masa sekarang ini masih banyak juga surat-menyurat yang digunakan sebagai media komunikasi. 



Dalam alquran juga telah di jelaskan tentang pengiriman surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis. (Q.S An-Naml: 28 ) 

Artinya: pergilah dengan membawa suratku ini lalu jatuhkanlah kepada mereka kemudian berpalinglah dari mereka, kemudian perhatikanlah apa yang mereka bicarakan. 

d. Pengiriman da’i 

Pada massa sekarang ini masih banyak da’i yang diutuskan ke daerah-daerah terpencil untuk menyampaikan dakwah, hal ini sama juga dengan masa rasulullah saw, hanya saja cara dan medianya berbeda pada massa rasulullah lebih kepada pengiriman delegasi.Da’I dikirim dengan menggunakan unta, namun pada masa sekarang ini teknologi semakin berkembangda’i dikirim dengan menggunakan alat transportasi yang semakin canggih pula, seperti mobil, pesawat, kendaraan dll. 

e. Masjid sebagai tempat utama untuk berdakwah 

Pada masa Rasulullah tempat yang paling banyak dilakukan untuk berdakwah ialah masjid. Masjid pada saat itu bukan hanya dijadikan tempat peribadatan, melainkan sebagai tempat pendidikan, berdakwh, sosial, peradilan, bahkan perencanaan perangpun di masjid..Saat ini juga banyak masjid-masjid yang dijadikan untuk berdakwah. 


DAFTAR PUSTAKA 

Munir, M. metode dakwah , prenada media, Jakarta: kencana 2006 

Illahi wahyu, dan hefni harjani.Pengantar sejarah dakwah , prenada media Jakarta kencana 2007 

Moh Aziz Ali, ilmu dakwah, prenada media , Jakarta kencana 2004 





referensi
[1]Moh Aziz Ali, ilmu dakwah, prenada media , Jakarta kencana 2004 
[2]Ibid.hal 149-150. 
[3]Alo,Liliweri.Komunikasi: Serba Ada Serba Makna,.(Jakarta: Kencana, 2011), hal. 872-873. 
[4] Etika komunikasi islam 



Pengertian dan Manfaat media relations Menurut Franks Jefkins


Ilustrasi : Publik Relations/ Google


Membina hubungan baik dengan media suatu keharusan dan tanggung jawab yang di bebankan kepada para Praktisi Publik Relations. menjaga keharmonisan antara perusahaan dan media yang harmonis kewajiban yang tak boleh di kesampingkan. sebab perusahaan dan media salaing membutuhkan. perusahaan membutuhkan media untuk publisitas perusahaan sedangkan media membutuhkan perusahaan untuk mendapatkan informasi yang nantinya di sampaikan kepada khalyak. 

Kegiatan pers relations dapat dimaknakan sebagai suatu hubungan dengan pers relations. maksudnya adalah komunikasi timbal balik yang dilakukan bagian dari humas dan suatu instansi kepada wartawan, yang dilandasi dengan saling pengertian, percaya dan memiliki tujuan untuk memberi informasi. 

Seorang pakar komunikasi yang terkenal di inggris dan amerika. Frank Jefkins, mengatakan, bahwa press relations adalah upaya untuk membangun citra positif suatu organisasi. 

Membangun hubungan pers mempunyai banyak manfaat. seperti :

  1.  membangun kepercayaan timbal balik dengan prinsip saling menghormati dan menghargai kejujuran dan kepercayaan.  
  2. membangun pemahaman mengenai tugas dan tanggung  jawab organisasi dan media.
  3. penyampain informasi yang akurat jujur dan mampu memberi pemahaman kepada publik. 
 Dalam Praktisi humas kegiaatan berhubungan dengan media dikenal dengan Media Relations atau hubungan media. berikut ini pengertian media relations :

Media Relations merupakan kegaiatan yang berhubungan dengan media komunikasi untuk melakukan publisitas atau merespons kepentingan media terhadap organisasi, Lesly (1991 : 7 ).

Media Relations atau hubungan pers ialah usaha untuk mencari publiksi atau penyiaran yang maksimum atas suatu pesan atau informasi humas dalam rangka menciptakan pengetahuan dan permahaman bagi khalayak dari organisasi perusahaan yang bersangkutan, Frank Jefkins (19992 : 98).

hubungan pers (pers Relations) adalah upaya-upaya untuk mencapai publiksi atau penyiaran yang maksimum atas suatu pesan atau informasi humas dalam rangka menciptakan pengetahuan dan pemahaman kepada khalayak dari organisasi atau perusahaan  yang bersangkutan. Barbara Averill secara ringkas menyebutnya dengan publisitas ( Iriantara, 2008).



referensi :

Yuliana, Nina. 2014. Media Relathions. Yogjakarta: Graha Ilmu


psikologi dakwah : teori psikologi dalam pelaksanaan dakwah/ teori psikoanalisa, behaviorisme, kognitif, humanistik

Ilustrasi : Psikologi Dakwah / google



BAB I PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Seorang da’i suatu ketika pasti berhadapan dengan karakteristik manusia yang berbeda-beda dan dalam situasi yang berbeda-beda pula. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor personal maupun situasional, faktor internal maupun faktor susiokultural. Oleh karena itu, pangetahuan tentang kaakteristik manusia sangat membantu tugas-tugas seorang da’i. 

Manusia dakwah terdiri dari da’i dan mad’u. Seorang da’i yang psikologi berkepentingan untuk mengetahui bagaimana mad’u (manusia) memproses pesan dakwah serta bagaimana cara berfikir dan melihat mereka, dipengaruhi oleh lambang-lambang yang dimiliki. Pengetahuan tentang karakteristik manusia juga di perlukan misalnya oleh seorang penyelenggara kegiatan dakwah (yang sebenarnya dapat masuk kelompok da’i atau mad’u) ketika harus menentukan siapa da’i yang akan diundang. 

Jika fokus psikologi dakwah adalah manusia yang terlibat dalam komunikasi dakwah maka dalam hal ini yang harus diketahui adalaah karakteristik manusia sebagai komunikan, yakni faktor-faktor apa yang mempengaruhi tingkah laku mereka dalam berkomunikasi.

Pernyataan tentang apa hakikat manusia sebenarnya merupakan pertanyaan kuno. Sepanjang sejarah manusia, pernyataan tentang hakikat manusia selalu muncul, dan jawaban yang diberikan oleh teori-teori hanya dapat memuaskan sebagian manusia pada zamannya. Pada generasi berikutnyaakan muncul teori baru yang mengkritik teori terdahulu dan memberikan teori yang dianggapnya lebih benar. Begitulah seterusnya hingga sekarang, teori tentang manusia tetap menarik untuk dibicarakan baik dalam konteks operational. Manusia :mahkluk budaya(madaniyyun bi at thob,i).


BAB II PEMBAHASAN

A. Teori Psikoanalisa

Tokoh dari teori ini adalah Sigmund Freud. Fokus perhatiannya ditujukan kepada struktur manusia, yakni kepada totalitas kepribadian manusia, bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah. Menurut teori psikoanalisa, perilaku manusia merupakan hasil interaksi dari subsistem dalam kepribadian manusia, yaitu Id, Ego, dan Superego. Manusia dalam teori psikoanalisa disebut sebagai Homo Volens, artinya manusia berkeingianan, yakni makhlk yang perilakunya digerakkan oleh keinginan-keinginan yang terpendam.

Penjelasan tentang tiga subsistem kepribadian manusia menurut teori psikoanalisa ini adalah sebagai berikut:

1) Id.

Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia. Id merupakan pusat instink, atau pusat hawa nafsu menurut bahasa agama. Menurut Freund, ada dua instink yang dominan pada subsistem id ini, yaitu libido dan thanatos.

a. Libido


Libido merupakan instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif, seperti seks dan hal –hal lain yang mendatangkan kenikmatan , termasuk kasih ibu, pemujaan kepada tuhan dan cinta diri( narcisisme). Tingkah laku manusia memakai baju, menyisir rambut dan lain sebagainya, menurut teori ini adalah karena dorongan seks. Bahkan mengapa pemuda kuliah di perguruan tinggi adalah juga karena dorongan libido seks, yakni agar status sosialnya tinggi dan dengan begitu peluang mencari istri lebih mudah . libido juga disebut instink kehidupan(Eros).

b. Thanatos 
Thanatos adalah instink destruktif dan agresif. Dorongan-dorongan untuk melawan dan merusak bersumber dari instink ini. Motif-motif manusia kehidupan dan instink kematian.Id seperti halnya hawa nafsu ingin segera memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang bersifat kesenangan. Id memang bergerak berdasarkan prinsip kesenagan (pleasure princple). Karena prinsip-prinsip kesenangan yang selalu ingin dipuaskan itulah maka Id sifatnya egois, tidak bermoral dan tidak peduli terhadap realitas. Id adalah tabiat hewani manusia.

2. Ego 

Ketika seorang pemuda terserempet mobil ugal-ugalan, maka id nya (baca: hawa nafsu) ingin memukul kepada sopir yang kurang ajar itu. Tetapi ketika diketahui sopir ugal-ugalan itu ternyata anak yang selama ini menolong membiayai studi anak muda itu maka ketika itu ego bekerja menjembatani nafsu yang tidak bermoral dan tidak peduli terhadap orang yang sudah dikenal akan berakibat serius di belakang jembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar . Ego menjadi penengah antara dorongan-dorongan hewani manusia dengan pertimbangan-pertimbangan rasional sesuai dengan realitas yang dihadapinya.

3. Superego.

Subsisitem yang ketiga ini dapat dikatakan mewakili hal-hal yang ideal. Superego menyerap norma-norma sosial dan kultural masyarakat. Ia bukan hanya rasioanal tapi juga atas prinsip-prinsip nilai dan sebagai pengawas kepribadian. Jika suatu ketika ego seseorang menuntut untuk menikahi seseorang gadis karena lamaran sudah diterima dan ia mampu untuk itu, tetapi di sisi lain orang itu bahwa gadis itu telah memiliki kekasih yang sangat dicintainya dan bahwa ia hanya terpaksa menuruti kemauan ayahnya yang mata duitan , maka superego akan menekan hasrat ego ke alam bawah sadar. Meski dengan kekuasaan seseorang akan merasa mampu mengatur perkawinan, tetapi hati nuraninya tidak sanggup menzalimi dua orang yang sedang berkasih-kasihan. Jika ia memaksa diri menikahi gadis itu tetapi kemudian sang gadis bunuh diri, maka ia akan merasa dihukum superego dengan penyesalan dan perasaan bersalah. Menurut freund, ego terkadang kepada superego. Baik id maupun superego berada di alam bawah sadar manusia, Ego-lah yang berada di tengah, yaitu antara memenuhi tuntutan moral (hati nurani atau superego).

Jadi, menurut teori psikoanalisa, tingkah laku manusia itu sebenarnya merupakan interaksi antara tiga subsistem itu, yaitu komponen biologis(ego) dan komponen sosial (superego) , antara unsur hewani, akali dan nilai atau moral.

B. Teori Behaviorisme

Jika psikoanalisa memfokuskan perhatiannya pada totalitas kepribadian, yakni apa yang ada dibalik tingkah laku manusia( yang tidak tampak), maka teori psikologi behaviorisme memfokuskan perhatiannya pada perilaku yang nampak saja, yakni perilaku yang dapat diukur, diramal dan dilukiskan . jadi, nampak sekali bahwa behaviorisme merupakan reaksi terhadap teori psikoanalisme. 

Manusia, oleh teori behaviorisme disebut homo mechanicus, artinya manusia mesin. Mesi adalah suatu benda yang bekerja tanpa ada motif di belakangnya. Mesin berjalan karena tidak adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena pasti tidak hidup, jika businya kotor juga mesinnya mati, jika unsur-unsur lingkungannya lengkap pasti berjalan lancar. Tingkah laku mesin dapat diukur , diramal dan diukiskan. Manusia, menurut teori behaviorisme juga demikian. Selain instink, seluruh tingkah lakunya merupakan hasil belajar. Belajar ialah perubahab prilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Orang batak yang hidupnya di pinggir pantai laut bicaranya selalu keras, karena lingkungan menuntut untuk keras, yakni bersaing dengan suara ombak, sedangkan orang jawa yang hidupnya diperkampungan yang lengang, bicaranya seperti bisik-bisik pun sudah terdengar.

Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia itu baik atau jelek, rasionil atau emosionil. Behaviorisme ingin mengetahui bangaimana perilaku manusia dikendalikan oleh lingkungan. Manusia dalam pandangan teori behaviorisme adalah makhluk yang sangat plastis, yang perilakunya sangat dipengaruhi oleh pengalaman nya. Manusia menurut teori ini dapat dibentuk dengan menciptakan lingkungan yang relavan. Seorang anak misalnya dapat dibentuk perilakunya menjadi seorang penakut jika secara sistematis ia ditakutt-takuti. Demikian juga manusia dapat dibentuk menjadi pemberani, disiplin, cerdas, dungu dan sebagainya dengan menciptakan lingkungan yang relavan.

Dalam teori ini manusia dipandang sangat rapuh tak berdaya menghadapi lingkungan. Ia dibentuk begitu saja oleh lingkungan tanpa mampu melakukan perlawanan. Aristoteles , yang di anggap sebagai cikal bakal teori behaviorisme memperkenalkan teori tabula rasa, yakni bahwa manusia itu ubahnya meja lilin yang siap dilukis dengan tulisan apa saja. Jika kita berpegang kepada kepada teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa mahasiswa dapat universitasnya, dan untuk itu kurikulum serta alat-alat stimulasi bisa dirancang. 


Sudah barang tentu teori ini banyak juga yang mengkritik karena teori ini tidak dapat menjawab fenomena perilaku yang hanya bisa diuraikan dengan motif, misalnya bangaimna seseorang raja muda yang justru meninggalkan tahta hanya untuk hidup bersufi-sufi, ( sidarta gautama , atau ibrahim bin adham), atau para pendaki gunung yang mempertaruhkan nyawanya, atau pejuang yang melakukan serangan kamikaze (bunuh diri) dengan meledakkan dirinya bersama bom yang di bawanya.


C. Teori Psikologi Kognitif

Jika behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang bersikap pasif terhadap lingkungan, maka psikoligi kognitif menempatkan manusia sebagai makhluknyang bereaksi secara aktif terhadap lingkungan, yakni dengan cara berpikir. Manusia berusaha memahami lingkungan yang dihadapinya dan meresponnya dengan pikiran yang dimilikinya. Oleh karena itu, maka manusia menurut teori kognitif ini disebut sebangai homo sapiens, yakni manusia yang berpikir.

Pusat perhatian teori kognitif adalah pada bagaimna manusia memberi makna kepada stimuli. Orang yang selalu di takut-takuti, misalnya tidak mesti menjadi penakut seperti yang menakutkan itu harus dilawan. Ia pu mungkin berpikir bahwa ingin membalik keadaan justru ingin membuat takut kepada orang yang suka menakut-nakuti. 

Jadi, menurut teori ini, manusia tidak secara otomatis memberikan respon kepada stimuli, tidak otomatis takut jika ada orang yang senyum kepadanya, tidak otomatiis patuh , bahwa orang yang menakut-nakuti itu memang orangnya kuat, apakah senyuman itu senyuman kasuh sayang atau senyuman gombal, apakah perintah atasan itu pantas dikerjakan atau tidak, dan sebagainya. Jadi, secara psikologis manusia adalah organisme yang aktif menafsirkan, bahkan mendistorsi lingkungan. 

Jika seseorang mendengar suara”ana” , mungkin saja ia menafsirkannya dengan ada (bahasa jawa), atau aku (bahasa arab), atau anak (dialek semarang), atau nama kepala SD assyafiiyyah ( Buk Anna). Jika anda melihat tulisan II, boleh jadi menafsirkan nya dengan dua huruf i, atau dua rumawi, atau dua tiang yang berdiri sejajar. Dalam pandangan teori kognitif, manusialah yang menjadi pemberi makna terhadap stimuli, manusialah yang menjadi pemberi makna terhadap stimuli, bukan stimuli itu sendiri. Words don’t mean, people mean, “ kata-kata tak mempunyai arti apa-apa, manusialah yang memberi arti”, demikian kata ahli komunikasi. 


D. Teori Psikologi Humanistik

Jika teori psikologi dan behaviorisme kurang menghargai manusia, karena dalam psikoanalisa, manusia dipandang hanya melayani keiginan bawah sadarnya, behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang takluk kepada lingkungan, maka psikologi humanistik memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menentukan. Manusia dipandang sebagai makhluk yang unik yang memiliki cinta, kreativitas, nilai dan makna dan makna serta pertumbuhan pribadi. Pusat perhatian teori humanisme, adalah pada makna kehidupan, dan masalah ini dalam psikologi humanistik disebut sebagai homo ludens, yaitu manusia yang mengerti makna kehidupan. 

Menurut teori psikologi humanistik ini, setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi (unik) , dan kehidupannya berpusat pada dirinya itu. Perilaku manusia bukan dikendalikan oleh keinginan bawah sadarnya( seperti teori psikoanalisaa), bukan pula tunduk kepada lingkungannya ( seperti teori behaviorisme) , tetapi berpusat pada konsep diri, yaitu pandangan atau persepsi orang terhadap dirinya yang berubah-ubah dan fleksibel sesuai dengan pengalaman nya dengan orang lain. Seorang penjahat yang merasa hebat karena nekad dalam perbuatan jahatnya misalnya, karena pengalamannya dengan orang lain. Dengan jagoan lain yang lebih hebat tetapi baik perilakunya , dapat saja ia menemukan makna kehidupan, dan kemudian memiliki konsep diri bahwa ia pasti dapat mengubah dirinya menjadi orang baik.

Psikologi humanistik memandang positif manusia.menurut teori ini, manusia selalu berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas dirinya. Manusia juga cenderung ingin selalu mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan yang bermakna. Setiap individu bereaksi terhadap situasi yang dihdapinya(stimuli) sesuai dengan konsep diri yang dimilikinya, dan dunia di mana ia hidup. Kecendrungan bathianiah manusia selalu menuju kepada kesehatan dan keutuhan diri. Jadi, dalam keadaan normal, manusia cenderung berperilaku rasional dan membangun ( konstruktif). Ia juga cenderung memilih jalan ( pekerjaan, karier, atas jalan hidup) yang mendukung pengembangan dan aktualisasi dirinya.

Dalam kehidupan keseharian, terkadang kita jumpai seorang gadis dari keluarga kaya, tapi justru memilih menjadi guru SD di kampung terpencil, seorang mahasiswa yang cerdas tapi justru aktif dalam kegiatan sosial di daerah kumuh sampai studinya tertinggal oleh kwan-kawanya yang kurang cerdas, seorang pengusaha sukses yang kemudian lebih senang menjadi da’i dan sebagainya. Fenomena itu dipandang positif oleh teori humanistik, apa yang mungkin dipandang tak lebih sekadar mengikuti dorongan libido dan teori psikoanalisa, atau sekadar terbawa arus oleh teori behaviorisme. 


BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan


Manusia dalam teori psikoanalisa disebut sebagai Homo Volens, artinya manusia berkeinginan, yakni makhluk yang perilakunya digerakkan oleh keinginan-keinginan yang terpendam dan kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia. 


Manusia menurut behaviorisme disebut sebagai homo Mechanicus, artinya manusia mesin. Mesin adalah suatu benda yang berkerja tanpa ada motif dibelakangnya. Mesin berjalan tidak karena adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena lingkungan sistemnya. 


Manusia menurut teori kognitif ini disebut sebagai Homo Sapiens, yakni manusia yang berfikir. Pusat perhatian teori kognitif adalah bagaimana manusia memberi makna kepada stimuli. 


Jika teori psikologi dan behaviorisme kurang menghargai manusia, karena dalam psikoanalisa, manusia dipandang hanya melayani keiginan bawah sadarnya, behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang takluk kepada lingkungan, maka psikologi humanistik memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menentukan.







DAFTAR PUSTAKA


Mubarok Ahamad, Psikologi Dakwah, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2008


Arifin, M. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi. Bumi Aksara: Jakarta. 1990